Sebuah   Ruang

B Y : A S A A R I J A

 


Sometimes, aku takut sekali. Tiap kali ketakutan itu datang, aku berusaha menguatkan diri. Baik itu dalam fikiran maupun hati. Bahkan dengan tindakan untuk merubah rencana se-perfect mungkin. Itu teori evaluasi. Penting. Ya, salah satu caraku untuk merubah rencana, bukan merubah tujuan ya…

To do smart work not hard work. Ya itu yang aku pelajari atau dapatkan dari scroll – scroll media social. Ada gunanya juga media social.

Takut karena aku masih di tahap umur yang masih bisa dan harus mengupayakan cara untuk mencapai 2 kata itu. Meski diumur awal kepala dua, perjalanan aku masih panjang, aku rasa. Dan maka dari itu aku tak akan berhenti. Ambisi besar ini harus terealisasi.

Perjalanan ku panjang, untuk memutuskan apa itu cita cita untuk ku. Sangat panjang, bahkan aku pernah tersesat.

Bukan tersesat, sih. Lebih tepatnya tidak punya arah maupun rencana. Padahal ketika itu aku berada  di usia sudah mendapatkan Kartu tanpa penduduk dan hamper lulus SMA. Tidak ada rencana. Tidak ada tujuan hidup. Ikut standart kebanyakan orang.

Capek

Dan aku tidak tau jati diriku sendiri.

Bodoh

Jelek

Ikut standart orang.

Ya… gitu sebelum aku kenal luasnya dunia. Kerasnya dunia. Menariknya dunia untuk kita jelajahi. Berbagai hal bisa kita lihat dan pelajari.

Menyebalkan, terkadang hanya game dipikiran. Ya… nasi sudah menjadi bubur, mau gimana lagi..

Memang tidak mudah menentukan jalan hidup, atau mau dibawa kemana hidup kita. Mau jadi apa kita nanti. Atau mau berguna atau tidak nantinya. semua itu pilihan. tapi tidak jika circle

 

 

 

 

Tidak banyak, tapi gue tau ini sulit. Ya, karena gue harus mempersiapkan mulai dari 0 semenjak apa yang gue inginkan benar – benar gue tau. Ya, semenjak 1 tahun lalu, di umur gue 20 tahun. Yang sebelum – sebelum itu gue hanya sekedar ingin, tanpa ada usaha. Tapi semakin ngiler lihat influencer yang kuliah di luar negeri dengan konten – konten youtube-nya yang menarik.

Ya, Cuma sederhana, crispy, tapi kaya hal bo’ongan untuk orang macam gue. Tapi gue yakin gue bisa.

Sebenarnya beberapa tahun lalu gue masih belum benar – benar berusaha, tapi udah ada gambaran. Ya, gitu gue gak bisa berusaha langsung karena gue masih punya tanggungan menyelesaikan sekolah sarjana gue di Indonesia.

Tapi semenjak tahun kemarin, gue sudah suka bahasa inggris, dan udah mulai belajar listening, grammar, and anything about learn foreign language. Katanya sih kalau ingin mahir sesuatu, cintai juga apa yang lo inginkan, biar enggak terasa berat di prosesnya. Bayangkan yang indah – indah suatu saat ketika lo bisa melakukannya. Ya, jadi gue bener – bener suka bahasa inggris sekarang. lebih terutama suka chat sama orang luar negri. Seru aja gitu.

Rencana gue sih maret 2021 gue udah sidang, dan dengan waktu yang bersamaan level inggris listening gue bisa naik ke level paling atas. Penting sih mendengarkan, kalo speaking sih itu mudah menurut gue. Setelah itu gue kerja, sembari mempersiapkan untuk apply beasiswa turkey or swedish. Dan mempersiapkan belajar german. Duit dari mana gue, kalau gue enggak kerja.

Hal yang selalu gue tanam dalam pikiran gue adalah hal – hal baik ketika gue sudah dapat meraih keinginan gue suatu saat. Ya, gue emang suka berkhayal. Terutama berkhayal tentang bagaimana kehidupan gue ketika bisa meraih mimpi – mimpi gue, bahkan hampir detail. Berkhayal itu enggak dosa, dalam konteks hal yang wajar. Bahkan berkhayal dalam konteks yang tidak wajar, gak ada yang ngelarang lo, selagi enggak menganggu orang, yakan? Sekarang kan emang agak condong seperti itu, people of indonesia. Ya meski bukan mostly people of indonesia. Tapi mindset mereka perlahan berubah, yang penting enggak menganggu , bukan urusan lo kan?

Dengan berkhayal itu, otak gue akan terus bekerja dan keinginan gue itu semakin tubuh berakar kuat. Jadi deh gue lebih giat untuk berusaha dan berdo’a supaya gue bisa meraih impian gue. Soal mimpi gue ini hal yang gue sayangi, gue rawat seperti anak sendiri. Gue pelihara impian ini sebaik mungkin dengan berusaha dan berdo’a agar gue tetap tau tujuan hidup gue dan enggak putus asa di tengah jalan. Tentu saja tujuan hidup lo, ya milik lo. buat apa lo hidup jika bukan untuk memenuhi tujuan? Baik itu tujuan lo yang bermanfaat untuk orang lain, tidak bermanfaat untuk orang lain, memperkaya diri lo sendiri, yang namanya tujuan pasti ada disetiap hidup manusia.

Pada dasarnya sih gue orangnya tanpa pikir panjang untuk melakukan apapun. Bahkan gue rela jadi Aupair dulu, untuk melanjutkan kuliah di German. Mungkin jika gue emang berhenti di tengah jalan, masih ada seribu cara untuk meraih impian gue. Ya, meksi gue tau takdir tuhan enggak selalu sama dengan apa yang gue inginkan.

Tapi tuhan akan luluh kok dengan do’a – do’a lo yang selalu lo panjatkan.

Tapi juga, tuhan juga punya rencana yang akan membuat lo tersenyum juga selain tentang impian lo.

Satu hal lagi yang gue suka tentang impian, gue pasti akan nulis di kertas note kecil yang akan gue tempel di dinding kamar gue. Impian gue atau resolusi gue tidak hanya satu. Jadi kertas note kecil itu banyak dan berwarna – warni. Bagusnya itu sangat aesthetic dan lucu terpasang di dinding kamar gue, dan gue suka melihatnya. menatapnya dengan penuh ambisi untuk meraihnya.


Masih belum terlambat untuk membuat Resolusi tahun 2021 pada tgl 3 januari. Sebenarnya gue udah tau resolusi gue apa untuk tahun ini. Ya, baru sekarang aja gue kepikiran untuk nulis dan mengabadikannya di blog pribadi.

Ah, setelah bertahun – tahun, gue kemana? Mana resolusi gue? Sejauh apa sudah di capai?

Dibilang terlambat, iya memang terlambat. Bahkan gue terlambat dalam segala hal. Mulai dari cita – cita apa yang gue inginkan, persiapan apa aja yang akan gue lakukan untuk mencapai cita – cita gue.

But, it is fair, jika lo sekarang udah berubah. Jika lo sekarang sudah menemukan tujuan hidup lo dan cita – cita lo. Dan jika sekarang lo sudah berjuang untuk cita – cita lo.

Umur 18 tahun, pandangan apa yang akan gue lakukan suatu saat nanti yang akan menjadi keinginan gue samar – samar terlihat. Ini terlambat jika dibandingkan teman – teman seusia gue yang sudah tau apa tujuannya. Ya, meski gue tau tujuan mereka—ah, enggak baik ngomongin tujuan orang, tujuan sendiri aja masih acak - acakan. Secuil harapan yang seharusnya ada sejak lo masih di sekolah, dan sudah dipersiapkan ketika lo di sekolah, tapi ditemukan ketika gue sudah dibangku kuliah, di semester 2. Dan sayang sekali jurusan apa yang gue enggak begitu tertarik. Bahkan sulitnya minta ampun.

Mencoba beberapa kali menyakinkan diri bahwa ini mudah, dan lo harus bisa adalah hal yang paling krusial. Lo enggak bisa, tapi meng-push diri supaya bisa. Hal itu sih enggak masalah sebenarnya, dalam konteks lo tidak terpaksa. Itu keinginan lo untuk melanjutkannya dan berjuang keras.  

Gue udah terlanjut masuk akuntansi, karena memang tidak ada gambaran di sekolah mau ambil apa, jadi gue terima aja pilihan orang tua. Tapi beruntungnya karena gue suka matematika sederhana jadi tidak terlalu memusingkan dengan angka dan ribuan nol.

Tapi coba kita pandang lagi masa depan. kita yakinkan diri bahwa memang kita bisa, tancapkan pikiran positif dalam benak kita. dan jangan lupa berdo’a setelahnya. Kalau enggak mau lupa, tulis di note dan pasang di tempat yang sering dilihat. Semakin sering lihat dan terbaca, otak akan menangkap itu.

Resolusi 2021, bahkan tahun berapa pun, tidak hanya tentang sebuah tuntutan atas diri lo pada tahun depan. Atau hal – hal yang harus tercapai di tahun itu. Yang lebih penting dari itu semua adalah evaluasi atas diri sendiri.

Apasih yang membuat resolusi 2020 gue enggak terwujud? Kendala apa aja di tahun 2020 sehingga gue enggak bisa mewujudkannya? Apa yang harus gue lakukan lagi pada resolusi 2020 gue yang tidak terwujud, dan yang ingin gue mewujudkannya di tahun 2021? Apakah gue bisa mewujudkannya lagi? Atau gue harus putar haluan atau memilih jalan lain?

Setidaknya bahan evaluasi diri bisa menjadi pegangan untuk resolusi tahun ini. Lo bisa lihat apa yang tetap dapat dilakukan dan tidak dapat dilakukan. Memang sistemnya sih seperti sistem mengikuti organisasi di kampus.

Rencanakan-jalankan-evaluasi- dan berbenah diri.

Dalam manajemen pada perusahaan juga sama seperti itu. Konsepnya ada pada manajemen diri kita sendiri. Jadi sistem manajemen itu meniru perilaku manusia atau manusia yang meniru? Mungkin juga sih para filsafat manajemen mendapat pandangan itu juga dari sikap manusia itu sendiri.

Seharusnya siklus itu memang benar – benar bekerja pada kehidupan kita. Meski gue juga masih suka melupakan hal remeh itu. Yang penting sih, catat apapun di kepala. Kalau emang suka nulis, tulis aja. Jadi kalau gue apapun itu gue selalu tulis di kertas. Mulai dari belajar grammar, vocabulary, pasti gue tulis itu di kertas.  Atau bisa kalian catat di handphone kalian.    

Tapi yang terpenting setelah evaluasi adalah berbenah diri. Omong kosong jika udah evaluasi, tapi tetap aja seperti sebelumnya. Tetap melakukan hal tidak bermanfaat seperti sedia kala. Apa guna evaluasi jika tidak digunakan untuk berbenah diri. Berbenah diri disini dalam artian membuang hal yang dirasa buruk, dan menggantinya yang lebih bermanfaat, yang lebih mengarahkan diri untuk menuju apa tujuan kita.

Apapun yang ingin lo capai, lo rubah itu juga namanya resolusi. Seberapa banyak tuntutan, atau sedikit tuntutan yang ingin lo capai dan lo rubah itu resolusi yang pantas lo perjuangan. Tidak peduli banyak, sedikit, remeh, sulit, semua pasti bisa tercapai asal lo yakin pada diri sendiri. Dan jangan lupa berdo’a minta kepada tuhan apa keinginan lo.

Sebenarnya memang tidak ada kata terlambat, mau lo buat resolusi di pertengahan tahun, atau akhir tahun. Bahkan untuk resolusi hari esok. It is fine, yang penting lo berusaha meraihnya, dan bener – bener berubah.


Umur gue ahaha.. Jangan tanya deh. Gue males bahas tentang umur. Rasanya gue udah enggak muda lagi. Sumpah, padahal gue masih umur 20 tahun. Ahahaha… Tapi pernah gak sih kalian kepikiran pingin kembali ke masa – masa kecil? Dimana lo bebas ngelakuin apa aja. Mulai dari malas belajar, cuek bebek, maen sampai mampus, atau apalah hingga lo dimarahi bokap atau nyokap lo atau malah dijewer, dicubit, atau dipukul?


Gue udah ngalami itu semua. Karena betapa badungnya gue.


Setiap moment antara manusia tentu saja berbeda. Tapi beda lagi kalo gue dan dia. Saudara kembar gue, kita bilang sih dulu “Patner in crime”.


Sok banget gue. Gak ada yang namanya angkuh di otak gue kala itu. Rasanya hidup itu berjalan gitu aja, meski keadaan finansial keluarga gue bertambah tahun bertambah turun.


Gue dengan patner in crime gue, dari gue orok hingga segedhe gini pasti sama dia. Jangan kepikiran deh gue dulu pisah sama dia. Yang ada mah kita jadi satu mulu. Jadi satu hingga badungnya udah keterlaluan. Maksud gue, badung gue itu normal, bukan kayak suka minum miras, bully gitu. Ahahaha…


Sebenarnya alasan sifat badung gue muncul itu ada banyak. Salah satunya gue itu kan jadi anak terakhir yang memiliki banyak kakak, sekitar 4 kakak. Dan jadilah gue punya objek praktikum segala kelakuan gue pada kakak – kakak gue. Gue jadi bisa menyalurkan hobi jail gue. Bisa mengimplementasikan pada kehidupan gue. Maklum sih, umur kita beda jauh dengan kakak gue yang terakhir itu sekitar 9 tahun, jadi kalau ibu atau ayah gue marah, marahnya pasti ke kakak gue. Ahahahah… Kan pasti yang udah gedhe kena imbasnya.


Gue disini sih mau cerita tentang perjalanan hidup gue yang penuh keceriaan. Cerita ini tanpa memiliki kesadaran hati yang seperti sekarang. Ahahaha…

Jadi gue akan cerita setiap badung gue, perjalanan lucu gue.


Waktu itu, umur 3,5 tahunan. Namanya hidup di kampung, dan ibu gue orangnya religius gue pun ngaji di mushola kampung sebelah. Waktu itu kedua kakak gue yang paling sulung udah ngajar ngaji disana sambil kuliah, jadi enak aja gue ngaji disana. Di samping kalau pulang pasti minta dibeliin jajan, dan bisa sedikit curang. Tapi jujur, gak enaknya itu kalau salah, kedua kakak gue gak segan – segan memarahi gue. Kan kesel jadinya ahahaha…


Dan gue jadi sedikit bisa dekat dengan guru – guru ngaji lain, karena kedua kakak gue juga guru ngaji disitu. Banyak sih, jangan tanya, nanti mereka pasti bilang kalau gue suka selewengan.


Ahahaha… gue nahan ketawa nulisnya sumpah. Jadi gini, ada guru ngaji lain. Katakanlah namanya Dewi, temen kakak gue tapi umurnya lebih tua 5 tahun dari kakak gue. Metode pembelajaran iqro’ disini itu satu persatu. Jadi setiap anak dibimbing belajar dengan satu guru, setiap hari belajar satu halaman Iqro’. Sedangkan gue, namanya juga bocah, gue selalu berdiri di belakang Mbak Dewi ketika dia ngajar anak lain. Dulu orang seumuran dia masih memakai kerudung paris, yang sedikit tembus pandang itu lhoo… Yang sekarang kuantitasnya udah jarang. Udah kalah dengan berbagai gaya kerudung.


Mbak Dewi ini sabar, rambutnya gue gak tau pasti. Lurus atau keriting, pendek atau panjang. Yang pasti, gue inget betul, kepalanya kaya landak, rambutnya itu keluar dari serat kerudung. Kalau tangan lo taruh di atas kepala Mbak Dewi pasti lo ketawa sendiri, karena geli. Jadi bawaan gue selalu narikin setiiap helai rambut itu ke atas. Kesel gue lihatnya, kek geli – geli landak gitu. Hanya saja ini enggak setajam bulu landak.


Pasti rasanya sakit, kesel, marah, dengan rambutnya yang ditariki seperti itu. Tapi emang siapa tau bagaimana perasaan seseorang. Yang pasti gue terus – terusan ngelakuin itu. Rasanya seneng aja bisa mainin rambut Mbak Dewi. Kalau melihat kelakuan Mbak Dewi sampai sekarang, sepertinya dia gak pernah marah dan gak pernah ambil hati, rambutnya gue tarikin gitu.


Gak tau lagi gue ketika waktu itu. Sampai – sampai ketika bersalaman saja, gue bilang gini, “Salaman podo – podo tai kucing dowo – dowo” (Bersalaman sama – sama, seperti tai kucing yang panjang – panjang), dengan cengiran tak berdosa. Itu kalimat yang booming pada zamannya. Kan kaya temen sendiri. ahahaha.. Jangan heran sih, sampe gedhe kelas 4 SD aja, gue panggil anak tetangga jauh yang baru gue kenal, dan umurnya di atas gue 3 tahun gue panggil dengan sebutan nama doang. Gak ada embel – embel ‘mbak’ yang biasanya menjadi budaya penyebutan di Indonesia kepada orang yang lebih tua.


Namun pada akhirnya gue yang kena marah sama ibu gue. Katanya enggak sopan dan gimana – gimana lah, apa - apalah. Kalau gue cerita itu sekarang, ibu gue selalu ketawa. Heran dengan kelakuan gue dan kembaran gue. Apalagi gue coba? Sayangnya gue sekarang udah tua, tapi gue jujur kadang tanpa sadar gue juga agak gila. Ahahhaah…


Dan terkadang juga, karena guru -  guru ngaji disana kenal sama kakak gue jadi sering curang. Gue ngaji datang paling awal, pulang paling akhir sambil nunggu kakak gue. Gak tau juga sih, sampe hari ini gue selalu on time. Mungkin settingan di kepala gue gitu kali. Gak kaya kebanyakan orang Indonesia yang suka molor kalau janjian atau bahkan sengaja datang terlambat.


Gue sebenarnya bukan rajin sih, tapi gue datang itu langsung bermain sampai waktu ngaji hampir berakhir. Kalau ngaji entar kalau udah mau do’a baru mendekat. Kadang guru – guru kesel sama kita. Kalau ngaji juga enggak pernah bener, bahkan kadang terjadilah tawar menawar berapa baris yang mau dibaca.


Bersambungg.....


Minggu ke 4, kurang 4 hari. Bosen di rumah

Kuliah onlie , ya terlhat mudah dilakukan, hanya tinggal menyalakan laptop sambil rebahan pun bisa dilakukan. Tak perlu mandi, menghemat bedak dan liptistik sudah jadi. Siap mengikuti perkuliahan pagi ini.
Karena keadaan Indonesia kini, dimna Covid-19 semakin meramba tak tertahankan dan pemerintah menggerakkan gerakan social distancing untuk memutus rantai penyebaran virus yang tak punya hati itu. Dan Jadilah pembelajaran online yang memuakkan itu diterapkan dimana - mana.


Bagaimana virus bisa punya hati, punya otak aja kaga. Kalo punya pun, masti mikir - mikir untuk bunuh kita - kita karena ada Hak Asasi Manusia yang akan melindungi segenap umat manusia. Hebat sekali yang merumuskan Hak Asasi Manusia itu. Namun, sayang, penerapannya masih belum sempurna dan belum meramba disetiap umat manusia.


Kembali lagi.


Bukannya taksetuju dengan keputusan pemerintah yang meliburkan sekolah - sekolah, dan melaksanakan pembelaran online untuk menghambat penyebaran virus covid-19 itu. Tapi jika sistem pembelajaran online yang tidak memadahi juga percuma saja. Tidak adanya ketentuan atau batas - batasan sehingga mewujudkan pembelajaran online yang  semaksimal mungkin untuk dilakukan. Harapannya sih pastinya juga menghasilkan output yang sama seperti pembelajaran normal sehari - hari, sebelum corona menyerang.


Aku rasa kuliah online menimbulkan dampak yang tidak bisa dibilang buruk dan juga baik. Mungkin lebih tepatnya tidak berpengaruh sama sekali terhadap pelajar.


Tak adanya regulasi dan ketentuan, membuat para akademisi pengajar menjadi seenaknya dalam pembelajaran online. Ada yang masih berusaha mempertahankan untuk bisa bertatap muka, memberi materi lewat vidio call, bahkan ada yang hanya memberi banyak tugas yang tak berperi kemanusiaan.


Namun banyak juga yang tidak brtanggung jawab, pengajar hanya memberi tugas dan tugas tanpa dibahas. Apalagi belum tugas dari mata pelajaran lain. Rasa - rasanya pelajar bukan terkapar karena Covid-19, malah terkapar karena tugas. Katanya siapa lupa kalo gak salah pak mentri sih, tugas itu jangan banyak - banyak, yang penting itu bahasannya. Kalo engggak ada bahasannya juga percuma. Tapi banyak tugas juga lebih bagus, tapi jangan lupa pembahasannya juga.


Namun faktanya, pembelajaran online yang hanya memberi tugas, jarang sekali ada pembahasannya. Hanya dikumpulkan, bahkan aku ragu pengajar mau mengoreksi satu persatu.


Dari kejadian itu, iya mereka mengerjakan, tapi percayalah mereka akan semakin tertekan, melakukan segala cara termasuk hanya copy paste jawaban di internet. Pikiran mereka akan hanya ada ‘yang penting tugas selesai,’ bukan untuk mempelajari pelajaran selayaknya di sekolah dikarena dikejar tugas lain dan waktu.


AKu yakin, karena aku juga melakukan hal yang sama meng-copy paste jawaban atau rangkuman dari internet untuk melengkapi tugas. Apalagi yang lebih parah itu, sudah kelas online 2 jam, dikasih juga 2 tugas. Belum lagi tugas yang lain. Dan ya jadi semakin copy paste tanpa baca di internet. Wkwkwkw…


Dan mengingat juga, masyarakat indonesia bukan masyarakat menengah ke atas. Namun separuh bahkan 3/4 masyarakat indonesia adalah masyarakat menengah ke bawah. Kelas online itu mengeluarkan banyak dana. Sudah membayar SPP, beli juga kuota yang tidak bisa dibilang sedikit karena banyak yang menggunakan vidiocall bersama. Kita harus mendownload satu - satu wajah mereka. Coba jika di kelas ada 40 anak, kita harus download wajah mereka satu - satu. Berapa kuota yang akan termakan?


Apalagi pembelajarannya tidak maksimal sama sekali. Percuma rasanya kelas online seperti ini, semua pelajar mengikuti hanya ingin mendapatkan nilai sempurna tanpa diikuti ilmu. Terkadang juga pengajarnya lupa kalau hari itu ada kelas.


Tapi apalagi caranya? Aku rasa kelas online lebih baik dilakukan dari pada tidak dilakukan. Daripada menganggur hanya rebahan di rumah. Lebih baik ada kerjaan yang positif, meski enggak sempurna - sempurna amat, dari pada enggak ada sama sekali.


Dan lebih baik ada untuk mengingat kita ini masih seorang pelajar, berkewajiban untuk belajar, enggak rebahan mulu, scrolling instagram dan melakukan hal yang enggak produktif sama sekali saat Quarantine time.


Aku bukan menyalahkan pemerintah, memang kondisi kita seperti ini, jadi wajar saja. Aku memaklumi. Namanya juga musibah yang mendadak, tak ada persiapan bahkan tak ada pengalaman untuk menerapkan sistem kelas online.


Jadi terima aja lah, harapannya sih kalo ini emang jangka panjang, mohon perlahan diperbaiki regulasi ato ketentuan untuk pelaksanaan pembelajaran online. Biar ada perubahan lebih baik. Aku hanya takut jika stagnan seperti ini, dengan ketidakberdayaan kita menjadikan hal - hal ini semakin percuma, aku takut berdampak buruk pada para penerus bangsa indonesia.


Atau para pengajar suruh aja buat vidio, biar sekalian dijelasin. Biar kita enggak cuma membayangkan aja apa yang pengajar katakan lewat vidio call. KArena percayalah bu guru dan bapak guru, membayangkan pelajaran itu sulit sekali.


Dan sekali lagi, terima kasih sih sama Pak Mentri Nadiem kita, aku lihat sih banyak komentar - komentar dari pak nadiem untuk pada pengajar, yang membantu kita para pelajar yang melakukan pembelajaran online. Dan harapannya juga dosen - dosen, guru - guru, dan pihak sekolah peka terhadap kesulitan kita. Apalagi menyangkut kuota, yang tidak setiap anak bisa membeli atau mempunyai wifi di rumah untuk menunjang pembelajaran online.


Untuk setiap elemen, hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi masalah kita sebagai sebagian pelaku atas situasi kini.


Dia yang tak pernah kusebut namanya dalam do’a. Seseorang yang mengajari banyak hal dalam rentan waktu yang tak panjang. Dia seorang guru dengan hanya modal pengalaman. Karena kiprahnya sudah kemana – mana, ia jadi tau banyak hal. Terkadang pemikirannya benar dan kadang juga sok benar.


Dia yang tak tampan, tapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu mengesankan. Bukan karena gombalan, tapi karena nasihat dan ilmu-nya yang tak bisa diragukan.


Aku pernah menyukai dia. Dia yang pernah dalam satu konstelasi yg sama, tanpa hati ikut serta mengambil peran di dalamnya.


Untuk pertama kalinya setlah sekian lama jantung kembali digetarkan dengan gaya bicara yg mengesankan. Saat semesta kembali tersenyum, rasa itu bermetamorfosis tak tertahankan.



Bagaimana ingatan tiba - tiba menghampiri dikala pertemuan pertama yang  tak pernah dipedulikan. Dalam jenjang  waktu  dia pernah sekedar menyapa. Dan mirisnya, aku hanya mengganggaruk tanpa ada rasa peduli untuk sekedar mengetahui namanya. Iya aku pelupa dan merasa 'bodo amat' utk sekedar mengetahui nama orang yang tak aku butuhkan. Iya aku memang  egois. Tapi beribu kucoba pun, aku tak pernah bisa cepat mengenal nama seseorang dengan begitu cepat.

Kemudian, semesta kembali mempertemukan dalam konstalasi selanjutnya. 


Dan aku sadar saat itu, lagi - lagi semesta tersenyum, ketika rasa itu datang diikuti angin besar. Angin besar yang terabaikan dengan rasa yang berkembang tak tertahan.


Meski aku tau skrng bersanding dengan orang yg sudah memiliki, namun rasa itu terlalu kuat, melunturkan setiap usaha untuk menghapus rasa.


Segala kemungkinan bersarang, bahkan pikiran terbodoh pun membayang karena hanya dengan sekecil perhatian.


Seolah dia telah menjadi milikku, karena banyak perhatian tertumpah pada diri ini. Bahkan persepsi orang, membenarkan rasa ini tumbuh hanya dengan melihat relita kejadian. Apala diri ini yang merasakan bagaimana terguyur ribuan kata dan perhatian yang tiada henti. Seolah tanaman kaktus yang tak mengharapkan turun hujan, namun senang terguyur airnya.


Bagaimana pertemuan menghampiri dengan bahagia, dan kemudian dirampas begitu saja untuk berpisah. Apakah pertemuan semenyakitkan itu?


Apakah takdir tak pernah berpihak padaku? Atau aku saja yang terlalu bodoh tidak mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Tidak memetik pelajaran dari pengalaman yang sudah pernah singgah, menyayat hati?


Kembali kepada kesengajaan beberapa hal yang memang diciptakn, bahwa setiap hal memiliki 2 sisi. Ada siang dan malam. Ada perempuan dan laki - laki. Ada yin dan yang. Maka ada pertemuan dan perpisahan.


Kalau sudah tau, apa yang dipermasalahkan? Terkadang kita terlena pada rasa bahagia dan nyaman itu, atau terlena dengn sebuah habit, hingga kita melupakan 1 konsekuensi setelah menikmati suatu fase. Seperti satu fase perjuangan yang akan menemukan fase kebahagiaan. Begitu juga fase kebahagiaan yang akan menemuka fase titik terendah sebuah rasa yang sulit dideskripsikan.


Memang sulit, Bagaimana harus terpaksa kembali membiasakan diri kepada sesuatu hal baru. Atau kembali kepada rutinitas yang tidak pasti setelah mendapatkan kenyamanan hidup. Tapi inilah hidup. Harus terus berjalan bukan?


Tentu saja, karena kita tak bisa menghindar bukan? Karena sifat takdir adalah mengejar, meski kamu berjuang mati - matian untuk menghindar.


Pertemuan dengan orang baru, dan mendapatkan kesempatan untuk berbagi beberapa hal,  menurutku seperti sebuah anugrah, aku bersyukur masih dapat merasakan. Apalagi sempat memiliki ribuan topik untuk dibicarakan, dan terasa sejalan dengan pikiran, atau kesamaan karakter dan kesukaan. Tentu saja sangat menyenangkan. Pertemuan 2 minggu itu terlalu sebentar untuk yang sudah satu frekuensi, dan akan terasa lama jika mendekat saja terasa sulit. Bukan karena tertutup, mungkin lebh tepatnya perbedaan pikiran, karakter, hingga kehabisan topik yang ingin dibagikan.


Terim kasih kawan! Yang sudah sempat singgah, untuk berbagi dan tertawa bersama. Yang masih belum sempat mengabadikan moment bersama atau yang sudah mempunyai kenangan bersama. Untuk kawan yang belum sempat mengabadikan moment bersama, jangan khawatir, kebersamaan kita masih tetap berusaha kuingat. Karena dikala itu kita sama - sama sibuk dengan alasan dan tujuan pertama hadir di tempat ini.


Ingatkan. Bagaimana ketika gathering, kita sempat tertawa dan berkonspirasi bersama untuk membawa semua permen yang ada untuk kursus esok hari. Dan berkonspirasi menghabiskan setiap jajan di piring teman lain. Bercerita tentang anime kesukaan. Hingga semua teman dan pendamping menertawakan.


Dan kawan, terima kasih sudah datang. Yang terkadang menemani ketika bosan di ruang tengah. Tertawa, dan sharing bersama.


Dan kawan yang belum bisa berbagi selama sebulan lamanya. Mungkin dari kita hanya ditakdirkan hadir bersama dengan landasan keinginan atau keperluan yang sama. Aku tau, dan tak akan berpikir bahwa kita berteman karena hanya saling membutuhkan, dan jika tidak butuh, akan dilupakan, layaknya egoisme. Namun, mungkin takdir telah berkata lain. 

Teman…


Memang perpisahan selalu menyakitkan. Namun, ikhlaskan. Biar semua yang terasa berat tidak terlalu menyakitan. Semua memiliki kehidupan masing - masing yang harus dilanjutkan. Bukan berarti kalian tidak penting, namun jalan masih terasa panjang dan harus tetap berjalan. Jangan terlalu suka dalam kenyamanan dan kebahagiaan, karena derajat manusia meningkat karena kegelisahan dan ketidak nyamanan dalam sebuah permasalahan.


Sekali lagi terima kasih kawan. Jangan jadi pelupa pada kita, karena kita adalah keluarga baru. Perpisahan kali ini, jangan dibuat beban. Saatnya kembali pada relita. Kejarlah apa yang kamu inginkan. Mungkin saja semesta akan kembali membuat rencana tak terduga untuk mempertemukan kita dalam kesempatan berikutnya.
 9 Februari - 7 Maret 2020, Pare, Kediri.


9 Maret 2020, Malang


Aku dedikasikan rasa ini yang terkonversi menjadi aksara untuk kawan saya. Agar sewaktu - waktu bisa membangkitkan sebuah kenangan. Karena jangan memberi harapan besar pada ingatan untuk mengingat. Karena sewaktu - waktu ingatan akan pudar ketika terlalu banyak masalah yang menimbun.
Postingan Lama Beranda

HELLO, THERE !

HELLO, THERE !

bacotan

  • about me
  • Coretanku
  • Daily journal
  • Jurnalku
Diberdayakan oleh Blogger.

Entri yang Diunggulkan

Tentang 2 kata, yang harus digapai

  Sometimes , aku takut sekali. Tiap kali ketakutan itu datang, aku berusaha menguatkan diri. Baik itu dalam fikiran maupun hati. Bahkan d...

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates