Mahasiswa..................

Mahasiswa…


Mahasiswa adalah sebuah gelar kepada remaja yang sudah memasuki dunia perkuliahan. Bukan gelar sekedar gelar. Tapi gelar yang mempunyai dan menanggung tanggung jawab besar di pundak setiap mahasiswa. Mindset mahasiswa bukan seperti siswa SMA pada umumnya, dimana mereka hanya dituntut belajar dan belajar. Belajar mengikuti atau menaati peraturan yang ada, belajar mengikuti di kelas, belajar berorganisasi. Memang mudah sekali jika kita masih berada di jenjang SMA. Semua seperti sudah ada jalannya. Dengan perumpamaan adalah guru seperti petani yang membuat parit, dan murid yang akan menjadi seperti air. Mengikuti semua arus parit dibentuk.


Jujur, memang kenyataannya seperti itu. Kita hidup di SMA tinggal menjalani saja apa yang sudah ada. Kita tidak perlu repot – repot berpikir apapun. Tapi intinya bukan disitu. Intinya menjadi mahasiswa bukanlah suatu yang menyengsarakan. Bukan sesuatu hal yang berat.


Tapi jika memang menyengsarakan atau memberatkan, kita sebagai mahasiswa harus bisa melalui itu. Harus berani out of the box, yang artinya harus berani keluar dari zona nyaman sebagai mahasiswa.
Berkata soal esensi, mahasiswa tidak dituntut hanya duduk, mendengarkan dosen di dalam kelas, mengejar target IPK tertinggi ataupun lulus dengan predikat cumlaude.


Namun kenyataannya di masa kini, di masa milenial, di masa yang krisis akan etika dan kebudayaan. Dimana semua teknologi serba canggih. Esensi seorang mahasiswa perlahan tergerus, dimana Esensi seorang mahasiswa adalah mengabdi, yang tergantikan dengan eksistensi. Keinginan untuk dilihat, diakui, dipandang itu yang sangat kuat dalam jiwa mereka adalah nafsu. Nafsu semata yang sudah merusak esensi jiwa mahasiswa.


Sekarang mudah saja jika seseorang ingin diakui, dilihat, dipandang. Tinggal sebarkan saja di media sosial, di viralkan. Kemudian semua orang akan memandang kalian, menyanjung – nyanjung kalian.
Tapi coba tanya pada diri kalian masing - masing sebagai mahasiswa terdidik. Tanyakan, apakah kalian benar – benar mengharapkan eksistensi itu dengan melupakan esensi itu sendiri? Mengesampingkan hati nurani demi sebuah pengakuan yang tidak sebanding itu?


Dalam pandangan masyarakat Indonesia, yang namanya mahasiswa adalah sang revolusioner bangsa. Dari masyarakat paling rendah hingga pemegang kekuasaan tertinggi pasti mempunyai pengharapan besar pada mahasiswa untuk sebuah perubahan, mengikuti arus perubahan zaman.


Dan ketika rakyat gaduh dalam sebuah penindasan oleh tangan – tangan tidak tau diri milik kekuasaan penindas. Uluran tangan mahasiswa lah yang mereka dambakan, yang mereka agungkan, yang mereka harapkan.
Pengharapan keadaan bangsa ada dipundak kalian, wahai mahasiswa.
Kalianlah mahasiswa penyambung lidah masyarakat. Kalianlah sang revolusioner bangsa ini. Kalianlah yang akan turun demi amanat dari penderitaan rakyat.


HIDUP MAHASISWAA!!!!!!!



Jangan harapkan sebuah eksistensi jika berakhir dengan besar kepala. Tapi kerjakanlah esensi, pengabdi sebagaimana kodratnya. Penyambung lidah masyarakat. Siapa lagi jika bukan kita sebagai mahasiswa yang akan membela dan menyalurkan amanat penderitaan rakyat?


Kata pembicara Seminar yang saya ikuti, jika kalian tidak memiliki esensi sebagai seorang mahasiswa. Sekarang kalian buat surat pengunduran diri sebagai mahasiswa. Semua kewajiban kalian akan gugur!!!
Coba kalian pelajari kisah seorang demostran mahasiswa tahun 1965 dan 1998. Kalian akan tau esensi sebagai mahasiswa itu sendiri. Semoga esensi dalam jiwa mahasiswa segera tumbuh.




bersambung...

0 komentar