Curhatan Kuliah online 8/april/2020



Minggu ke 4, kurang 4 hari. Bosen di rumah

Kuliah onlie , ya terlhat mudah dilakukan, hanya tinggal menyalakan laptop sambil rebahan pun bisa dilakukan. Tak perlu mandi, menghemat bedak dan liptistik sudah jadi. Siap mengikuti perkuliahan pagi ini.
Karena keadaan Indonesia kini, dimna Covid-19 semakin meramba tak tertahankan dan pemerintah menggerakkan gerakan social distancing untuk memutus rantai penyebaran virus yang tak punya hati itu. Dan Jadilah pembelajaran online yang memuakkan itu diterapkan dimana - mana.


Bagaimana virus bisa punya hati, punya otak aja kaga. Kalo punya pun, masti mikir - mikir untuk bunuh kita - kita karena ada Hak Asasi Manusia yang akan melindungi segenap umat manusia. Hebat sekali yang merumuskan Hak Asasi Manusia itu. Namun, sayang, penerapannya masih belum sempurna dan belum meramba disetiap umat manusia.


Kembali lagi.


Bukannya taksetuju dengan keputusan pemerintah yang meliburkan sekolah - sekolah, dan melaksanakan pembelaran online untuk menghambat penyebaran virus covid-19 itu. Tapi jika sistem pembelajaran online yang tidak memadahi juga percuma saja. Tidak adanya ketentuan atau batas - batasan sehingga mewujudkan pembelajaran online yang  semaksimal mungkin untuk dilakukan. Harapannya sih pastinya juga menghasilkan output yang sama seperti pembelajaran normal sehari - hari, sebelum corona menyerang.


Aku rasa kuliah online menimbulkan dampak yang tidak bisa dibilang buruk dan juga baik. Mungkin lebih tepatnya tidak berpengaruh sama sekali terhadap pelajar.


Tak adanya regulasi dan ketentuan, membuat para akademisi pengajar menjadi seenaknya dalam pembelajaran online. Ada yang masih berusaha mempertahankan untuk bisa bertatap muka, memberi materi lewat vidio call, bahkan ada yang hanya memberi banyak tugas yang tak berperi kemanusiaan.


Namun banyak juga yang tidak brtanggung jawab, pengajar hanya memberi tugas dan tugas tanpa dibahas. Apalagi belum tugas dari mata pelajaran lain. Rasa - rasanya pelajar bukan terkapar karena Covid-19, malah terkapar karena tugas. Katanya siapa lupa kalo gak salah pak mentri sih, tugas itu jangan banyak - banyak, yang penting itu bahasannya. Kalo engggak ada bahasannya juga percuma. Tapi banyak tugas juga lebih bagus, tapi jangan lupa pembahasannya juga.


Namun faktanya, pembelajaran online yang hanya memberi tugas, jarang sekali ada pembahasannya. Hanya dikumpulkan, bahkan aku ragu pengajar mau mengoreksi satu persatu.


Dari kejadian itu, iya mereka mengerjakan, tapi percayalah mereka akan semakin tertekan, melakukan segala cara termasuk hanya copy paste jawaban di internet. Pikiran mereka akan hanya ada ‘yang penting tugas selesai,’ bukan untuk mempelajari pelajaran selayaknya di sekolah dikarena dikejar tugas lain dan waktu.


AKu yakin, karena aku juga melakukan hal yang sama meng-copy paste jawaban atau rangkuman dari internet untuk melengkapi tugas. Apalagi yang lebih parah itu, sudah kelas online 2 jam, dikasih juga 2 tugas. Belum lagi tugas yang lain. Dan ya jadi semakin copy paste tanpa baca di internet. Wkwkwkw…


Dan mengingat juga, masyarakat indonesia bukan masyarakat menengah ke atas. Namun separuh bahkan 3/4 masyarakat indonesia adalah masyarakat menengah ke bawah. Kelas online itu mengeluarkan banyak dana. Sudah membayar SPP, beli juga kuota yang tidak bisa dibilang sedikit karena banyak yang menggunakan vidiocall bersama. Kita harus mendownload satu - satu wajah mereka. Coba jika di kelas ada 40 anak, kita harus download wajah mereka satu - satu. Berapa kuota yang akan termakan?


Apalagi pembelajarannya tidak maksimal sama sekali. Percuma rasanya kelas online seperti ini, semua pelajar mengikuti hanya ingin mendapatkan nilai sempurna tanpa diikuti ilmu. Terkadang juga pengajarnya lupa kalau hari itu ada kelas.


Tapi apalagi caranya? Aku rasa kelas online lebih baik dilakukan dari pada tidak dilakukan. Daripada menganggur hanya rebahan di rumah. Lebih baik ada kerjaan yang positif, meski enggak sempurna - sempurna amat, dari pada enggak ada sama sekali.


Dan lebih baik ada untuk mengingat kita ini masih seorang pelajar, berkewajiban untuk belajar, enggak rebahan mulu, scrolling instagram dan melakukan hal yang enggak produktif sama sekali saat Quarantine time.


Aku bukan menyalahkan pemerintah, memang kondisi kita seperti ini, jadi wajar saja. Aku memaklumi. Namanya juga musibah yang mendadak, tak ada persiapan bahkan tak ada pengalaman untuk menerapkan sistem kelas online.


Jadi terima aja lah, harapannya sih kalo ini emang jangka panjang, mohon perlahan diperbaiki regulasi ato ketentuan untuk pelaksanaan pembelajaran online. Biar ada perubahan lebih baik. Aku hanya takut jika stagnan seperti ini, dengan ketidakberdayaan kita menjadikan hal - hal ini semakin percuma, aku takut berdampak buruk pada para penerus bangsa indonesia.


Atau para pengajar suruh aja buat vidio, biar sekalian dijelasin. Biar kita enggak cuma membayangkan aja apa yang pengajar katakan lewat vidio call. KArena percayalah bu guru dan bapak guru, membayangkan pelajaran itu sulit sekali.


Dan sekali lagi, terima kasih sih sama Pak Mentri Nadiem kita, aku lihat sih banyak komentar - komentar dari pak nadiem untuk pada pengajar, yang membantu kita para pelajar yang melakukan pembelajaran online. Dan harapannya juga dosen - dosen, guru - guru, dan pihak sekolah peka terhadap kesulitan kita. Apalagi menyangkut kuota, yang tidak setiap anak bisa membeli atau mempunyai wifi di rumah untuk menunjang pembelajaran online.


Untuk setiap elemen, hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi masalah kita sebagai sebagian pelaku atas situasi kini.


0 komentar