Kebanyakan
dalam story – story yang menjamur di kehidupan, bahkan dari tahun 1989 sampe
sekarang 2020, stigma masyarakat Indonesia masa SMA adalah masa yang paling
indah. Tapi menurut gue, semua itu hanya
sebuah cover dalam kehidupan SMA gue. Sebuah cover yang membuat gue harus
terjun dalam kepahitan hidup SMA, dimana waktu itu gue menduduki kelas 12.
Kelas akhir, yang seharusnya indah, namun saat – saat itu adalah situasi yang
sangat terasa berat.
Yang
gue lihat, stigma masyarakat tentang bullying di sekolah – sekolah Indonesia
tidak begitu populer daripada stigma bahwa masa SMA adalah masa yang paling
indah. Gue merasa heran, kenapa, bahwsanya bullying yang terjadi dalam
kehidupan sekolah seolah terlupakan. Padahal banyaknya kejadian bullying yang
terjadi, mereka hanya bungkam dengan apa yang mereka alami. Gue aja baru ini
berani speak up ke publik setelah 3
tahun lamanya memendam itu semua. Ya karena apa? Karena lingkungan di Indonesia
enggak mendukung untuk korban bullying speak
up dan tak adanya regulasi – regulasi yang melindunginya. Mereka takut jika
speak up, semua semakin dalam dan
menyakitkan.
Yang
merasa seperti ini, lo enggak sendiri. Gue hadir pernah ngalami ini. Gue disini
sih ceritanya mau curhat, kemarin temen gue, temen saudara gue yang satu
sekollah itu ngungkit masa SMA. Sebenanrya apa yang gue rasakan bukan bullying
fisik, verbal atau apa, tapi yang gue rasakan bullying dalam konteks relasional
yang paling mengena. Eitss.. semua bullying sama aja. Sama – sama membuat
korban merasa berbeda dan merasa dikucilkan.
Jadi
gini, gue itu punya saudara kembar. Kita satu sekolah, tapi beda jurusan. Yang
mengherankan itu, gue bisa masuk IPA, hebat kan gue? Ya meski bakat IPA gue sangat – sangat bisa dibilang minim,
bukan dibilang lagi sih, emang minim banget. Hahahah. Dan saudara kembar gue
masuk IPS. Perbedaan inilah yang membuat gue banyak teman, salah satunya juga
karena gue anak kembar yang mudah sekali terkenal dan suka berbaur. Apalagi
dengan sifat gue yang awarness,
gampang kenal. Namun yang disayangkan sampai sekarang teman yang masih
menganggap gue ada adalah teman saudara kembar gue. Anak IPS, yang sampe saat
ini masih baik.
Ya
jadi, gue ini sampe bingung. Dari kemampuan gue yang bisa dibilang IPAes ini, apa
gue ini anak IPA atau IPS. Dibilang anak IPA, iya gue punya title anak IPA,
tapi gue juga enggak begitu pintar IPA. Dibilang anak IPS, nyatanya gue
memegang title anak IPA bukan anak IPS. Sebenarnya temen biasa sih banyak,
dikelas IPA lain juga banyak. Gue jujur deh, bukan sombong, gue selalu awarness sama anak jurusan IPA. Bahkan
semua gue kenal, mereka kenal gue. Tapi herannya kenapa ketika gue kelas 12,
seolah semua teman sekelas gue menjauhi gue. Namanya temen sekelas, dimana
setiap aktivitas seharian di skeolah pasti berhubungan dengan temen sekeelas,
kan? Mau gak mau kita harus beradaptasi.
Kelas
10, ketika itu sih mereka awarness
banget sama gue. Sampai – sampai ketika tugas dari guru BK untuk menulis teman
tertawanya, 8 dari 10 cewek di kelas nulis nama gue dikertasnya. Yang kini
entah disimpan guru BK itu atau sudah hilang. Namun gue yakin, dalam benak
teman – teman gue, apa yang pernah mereka tuliskan nama gue, sudah hilang di
kertas maupun di benak mereka. Gue juga punya temen nakal, gini – gini gue juga
pernah nakal lhoo.. ya di kelas 12 diam, soalnya gak punya teman.
Ahahahaha…
sebegitu lucunya hidup diputar balikkan. Dari gue yang nakal di kelas 10, yang
suka diam – diam pergi ke kantin ketika jam pelajaran. Atau jalan – jalan dari
lorong satu ke lorong lain dengan teman sekelas gue ini, demi menghindar
pelajaran guru tersantai yang ngebosenin. Sampai – sampai guru mendokrit gue.
Guru itu sampe hafal gue dan temen gue ini yang suka jalan – jalan di waktu
pelajaran dengan alasan konyol. Atau dengan dalih ke kamar mandi, tapi
nongkrong di bawah tangga ikut teman sebelah yang kosong jam pelajaran.
Hahahahahah.. konyol – konyol.
Terkadang
gue berpikir, apa yang membuat ini bisa membalikkan semua hal yang terjadi
ketika itu. Mungkin, mungkin juga gue ada salah sama mereka. atau gue yang
terlalu baper atau apa. atau sesuatu yang biasanya disebut karma? Semua itu
masih belum gue temukan, seberapa berusaha gue belum menemukan penyebabnya. Lo
tau hingga semua anak cowok merasa enggak suka sama gue.
Oke
kembali, yaa… ahahah.. lucu juga kalo gue nangisin hal ini. Hal yang konyol,
yang gak akan berpengaruh apapun dikehidpuan gue. Tapi kesalnya itu, membekas.
Bukan dendam yang membekas, tapi sakit dan ingatan itu yang membuat gue diam –
diam menangis enggak jelas.
Gue
Cuma mau ngucapin terima kasih sih, sama temen gue waktu kelas 10. Kenakalan
gue dan dia, menciptakan memori indah tersendiri bagi gue. Meski gue harus
menghela nafas, lo udah pergi gitu aja waktu kelas 12 ninggalin gue. Terima
kasih sebanyak – banyaknya, karena gue mendapatkan title anak suka keliling
kelas di jam pelajaran. Menyenangkan mendapatkan title yang tidak biasa itu.
hahahahah…
Oh
iya, terima kasih juga saudara kembar gue. Tanpanya gue akan merasa sendiri,
meski lo tau gue ini manusia macam apa. Kesal lo hilang begitu saja, hitugan
jam. Terima kasih.
Kelas
11, itu dimana teman gue berubah. di acak. Teman kelas 11 sih mengasikkan.
Meski kadang kalo bicara suka ngawur, tapi gue tau itu sebatas candaan. Dan
parahnya, kelas gue terpental jauh dari temen – temen kelas 10. Jadi jarang bertemu.
Dan
sekarang kelas 12. Kelas akhir, kelas yang diharapkan menambah kesan – kesan berada
di SMA. Kelas 12, dimana temen kelas 10 gue lebih dominan. Mereka sudah
mempunyai kelompok/gengs sendiri – sendiri. Hingga mengharuskan gue duduk
paling pojok belakang, sama anak cowok pula. Iya, kalo anak cowoknya baik. Ngomong
aja sama gue, ogah. Hingga waktu berlarut - larut, si cowok ini baru ngomong
sama gue. Iya, kalo tanya ada maunya, minta contekan. Kan Asem juga.
Tak hanya itu,
suatu ketika pertama kali masuk kelas 12, namanya gue yang jauh duduk dari
temen - temen cewek gue, gue pun ikut pergi ke kantin. Gue gak peduli sama mereka
yang ngajak temennya atau gengnnya dari kelas lain. Meski begitu, gue tau pasti
apa yang akan terjadi sama gue, yaitu dicampakkan. Gue hanya ngikuti langkah
mereka, yang tanpa pernah menganggap gue benar – benar ada. Mereka asik
becanda, gue hanya sesekali tertawa garing, mengangguk. Mengikuti arus candaan
mereka.
Bukan karena
gue hanya mengenal mereka saja, tak mengenal temen cewek lain. Temen cewek
sekelas gue yang lainnya udah main juga sama geng – gengs mereka. Gue udah
deketin mereka, tapi tetep sama apa yang gue terima. Jadi terkadang gue ikut kesana
kemari, gak tentu. Arah.
Anggap aja
temen cewek gue yang dari kelas 10 namanya si A, ya. Biar gampang
Suatu kali gue
bosen dan muak, gue pasti memilih menetap di kelas ketika istirahat, duduk,
meletakkan kepala di atas meja. Malas – malasan, sambil mainan instagram. Dan
biasanya beli yogurt yang ditawarkan temen gue ke kelas - kelas. Tapi itu
enggak sering. Gue sering pergi ke kantin sama mereka, meski dicampakkan. Iya,
karena menurut gue, apapun dia yang udah dilakuin ke lo, jangan terus menjauh. Coba
deketin, mungkin mereka bisa luluh. Ya, meski gue tau sulit untuk memahami yang
terakhir.
Atau kalo gue
lagi dalam mode kuat, yang gue pun kembali ikut mereka. Meski lagi – lagi gue
tau apa yang akan terjadi sama gue. Anggap saja temen gue dari kelas 10 itu
sebut saja Si A, biar gampang.
“Apaan sih? Lo
ngapain ikut?”
Syok dong gue.
Meski gue kesal, gue tetep maksa. Bukan karena apa, gue gak mau dengan ketidak
sukaan mereka seperti ini terus
berkelanjut tanpa ada keinginan keras untuk menghentikannya. Kepemaksaan gue,
gue ingin memberitahu mereka yang menganggap gue ini akan lemah, nurut, dan tak
akan ikut mereka lagi setelah ucapan itu, bukan cewek seperti itu. Sekali
ucapan itu tak akan berpengaruh sama gue. Tapi balasan mereka, yang membuat gue
untuk memutuskan mengalah mundur. Gue gak ingin menjadi alasan mereka batal
pergi karena gue. Itu aja. Kira – kira
gini percakapan gue, setelah beberapa menit memaksa.
“Lo gak usah
ikut.”
“Gue pingin
ikut.”
“Gak usah.”
“Ayoa..”
rengek gue, meski gue tau itu adalah hal yang menjijikkan untuk diingat.
Menjijikkan gue harus mengemis sama mereka. Seolah gue gak punya keberanian
sendiri.
“Yaudah, gak
jadi ke kantin,” ucap salah satu mereka, pada gengsnya dengan wajah jutek mengarah
ke wajah gue. Tatapan itu, tatapan yang selalu gue ingat. Tatapan merendahkan.
Ya, gue
kembali memutuskan untuk duduk diam di belakang, main instagram dan minum
yogurt 1.000an. Nah, ini nih, kesalahan gue. Gue tak pernah memanfaatkan waktu
ketika itu dengan sebaik mungkin. Jika waktu itu memanfaatkan waktu untuk
membaca, atau mengerjakan PR atau latihan soal Kimia, Fisika, dan matematika
mungkin gue lebih mempunyai peluang lolos SBMPTN lebih besar.
Sebenarnya
keinginan, niatan gue kuliah itu udah ada. Hanya saja, usaha yang gue lakuin
hanya setengah – setengah. Mungkin jika waktu itu gue memanfaatkan waktu itu untuk
belajar gue pasti masuk PTN.
Gue
tau bullying gak hanya terjadi sama gue. Banyak diluar sana juga pernah
merasakan apa yang gue rasakan. Meski tipe bullying berbeda sama gue. Tapi
percayalah, lo enggak sendiri. Kalau pun lo sendiri, manfaatin waktu lo untuk
memperbanyak ilmu lo, mengasah skill lo. Agar lo kembali lagi, kembali
mendapatkan perhatian dari mereka. Omong kosong sekarang temen tulus itu ada.
Mungkin ada tapi hanya beberapa. Tapi pastinya apa yang mereka lihat, adalah
hal yang terpenting sebelum menjalin pertemanan. Mungkin dengan skill lo yang
semakin bagus, mereka akan terbalik mengemis lo.
Terkadang,
saudara kembar gue pernah bertanya. Kenapa sih gue enggak jauhin mereka aja?
Suruh ikut dia aja!
Jawaban gue
apa? Gue ingin memberi tahu mereka, gue bukan gadis lemah, yang dengan sekali
perkataan mereka bisa menekan nyali gue.
Gue bisa
ngomong gini karena apa? Karena gue pernah ngalamin dan sekarang gue sedikit
menyesal waktu lenggang yang seharusnya gue gunain untuk membaca ataupun
belajar gue gunakan untuk main game. Wajar sih, gue emang dari dulu suka ngegame.
Tapi beneran jangan di tiru!!! Lo ngalamin gini, tandanya tuhan masih sayang
sama lo. Tuhan ingin lo lebih menekuni hal yang lo inginkan tapi kurang lo
perjuangankan.
0 komentar