Terima
kasih Kota Yogyakarja, Jalan Malioboro, telah memberi ribuan kata yang tak
terucapkan, namun berhasil kutuliskan.
Kota Yogyakarta, meninggalkannya… membuat rindu semakin menggelitik. Tatkala 2017 lalu, aku tak mempunyai kesempatan menyapanya. Menyenangkan bersapa rua dengan masyarakat yang selalu memenuhi jalan malioboro. Tatkala aku duduk di sebuah batu bulat, menanti teman yang berpamitan menuju toilet, aku menemukan kedamaian. Kedamaian dalam diam, menikmati riuh ramai Jalan Malioboro.
Dan entah dari mana, sampah di atas trotoar jalanan Malioboro tampak tak mengherankan. Bingung, apa ini karena budaya dalam kota Yogyakarta, atau memang keengganan mereka untuk mencemari trotoar jalan Malioboro yang terlalu menawan?
masih berusaha mengumpulkan kata - kata yang bercerai berai, tatkala merindu.. pada apapun di dalam keramaian Jalan Malioboro Kota Yogyakarta,
Jika memang masih ada kata - kata yang akan aku temukan, aku akan kembali menulisnya dalam halaman catatan lain.
Suasana Kota Yogyakarta, Januari
2020 masih sama seperti dulu. Budaya, sopan dan santun masih menyapa tatkala
aku berjalan diatas trotoar Jalan Malioboro. Jalan yang katanya penuh kenangan,
tatkala seorang jomblo yang mempunyai kenangan indah disini dengan cintanya
yang kini kandas.
Kota Yogyakarta, meninggalkannya… membuat rindu semakin menggelitik. Tatkala 2017 lalu, aku tak mempunyai kesempatan menyapanya. Menyenangkan bersapa rua dengan masyarakat yang selalu memenuhi jalan malioboro. Tatkala aku duduk di sebuah batu bulat, menanti teman yang berpamitan menuju toilet, aku menemukan kedamaian. Kedamaian dalam diam, menikmati riuh ramai Jalan Malioboro.
Kala itu, sore dan nanti malam
sabtu yang membuat manusia berbondong – bondong memadati jalan Malioboro, hanya
ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa ia berada pada jalan yang sangat
menawan. Sama halnya sepertiku. Aku duduk, dibawah langit cerah, berembun,
hujan baru saja pergi membuat trotoar kini basah. Menikmati setiap aktivitas
disana, sangatlah menyenangkan, dan juga sangat menyakitkan.
Melihat tukang sate, yang duduk
berjongkok membakar daging ayam, sambil menjajakan dagangan. Orang sepuh
berjuang keras menjual gelang kaca atau gelas besi yang tak kunjung terjual. Mereka
tetap akan keras kepala, menjajakan barang dagangan demi menyambung kehidupan. Dalam
kondisiku ini, aku tak cukup untuk menawar dagangan. Rasa – rasanya aku juga
sama seperti mereka, masih dalam fase kantong yang semakin menipis. Namun, aku
sedikit bersyukur bisa melangkah di atas trotoar jalan yang menawan. Ribuan kilo
dari kotaku. Bukannya kota kelahiranku tak lagi menawan, hanya saja rasanya hati
ingin berkelana sebatas mencari pengalaman.
Maaf. Hanya kata maaf dan do’a
untuk mereka yang aku langitkan. Maaf, karena tak bisa membeli dagangan mereka.
Berdo’a, agar rejeki selalu berlimpah. Tak papa, jika kamu sama dalam fase
sepertiku. Jika tak bisa memberi dengan materi, tak papa. Terkadang, sepucuk do’a
lebih berharga daripada ratusan juta.
Coba bandingkan, jika kamu
membeli dengan uang 10.000 yang hanya ada di sakumu, dengan do’a agar dia
mendapat rejeki berlimpah. Pastinya suatu saat dagangan yang kamu do’akan akan ditawar
orang, bisa jadi dengan harga 2x lipat dari harga yang akan kamu tawar. Memang rejeki
punya jalannya sendiri untuk datang menghampiri.
Di sisi lain, aku termenung
dengan salah satu sahabat yang baru saja kembali dari toilet. Percakapan kini
tentang kuda yang menarik perhatian. Kuda yang sore ini menjulurkan lidah, tampak
kelelahan. Bekerja paksa diluar batasan. Tanpa ada iming – iming sebuah imbalan
yang meyakinkan. Mereka tak cukup kuat harus menarik penumpang dari pagi hingga
petang. Semua memiliki batasan bukan? Apalagi kita hanya sebagai makhluk
ciptaan-Nya.
Pemandangan yang terus berkelanjut,
hingga semesta belum turun tangan kejadian itu akan tetap berlanjut. Jangan lupa bersyukur untuk kita, yang bisa
membaca ini atau untuk saya sendiri, yang masih sempat duduk menulis atau
sekedar membaca catatanku. Apalagi sempat menyisikan sebagian rejeki untuk
membeli kuota. Aku hanya ingin mengingatkan, karena terkadang aku juga sama –
sama pelupa, bagaimana arti kata bersyukur. Bahkan bagaimana cara bersyukur
setelah semesta menentukan nasib kita, yang tak sesuai list rencana yang kita
buat. Terkadang, kalau aku ingat, caraku : jangan pernah berpikir bahwa semesta
tak pernah perpihak pada kita. Terkadang, kita memang kalah dengan takdir
semesta. Namun, semesta akan membuat kita tersenyum karena rencana-Nya.
Tak hanya itu, kendaraan berbaris,
padat, merayap. Bermacam kendaraan berlalu lalang. Kini aku sadar, ribuan becak
dengan tenaga mesin memenuhi jalan. Dulu ketika pertama kali menjejakkan kaki,
masih kuingat, bagaimana keringat bercucuran di kening tukang becak karena
gayuhan yang begitu semangat. Namun, sejujur hati, pemandangan tukang becak
kini mengurangi nilai estetika sebuah kota tua bernama Yogyakarta.
Ah, Kota Yogyakarta, tepatnya
Jalan Malioboro. Apapun perubahan, selalu mempunyai kenangan. Selalu menjadi
candu ketika teringat hangatnya bagaimana kenangan.
Hal lain yang menawan adalah
masyarakat yang melentangkan tangan terbuka, senyum yang menyapa tulus untuk
turis – turis lokal seperti saya. Begitulah gaya atau budaya kental orang jawa yang
membikin betah. Bahkan yang memanjakan mata untuk mengingat sejarah peradaban
jawa bisa hadir di tengah – tengah kita, adalah kussir dengan balutan pakaian
khas Yogyakarta dan blankon yang gagah terpampang di atas kepala. Sangat
bangga, melestarikan warisan budaya.
Tak hanya itu, sejarah peradaban
eropa juga tak kalah menawan, bangunan kota yang tua yang masih terawat begitu
mulus, meski kini bukan lagi hak milik bersama. Namun, melestarikannya adalah
kewajiban bersama. Begitu juga lalu lalang turis dari manca negara, ikut
mendamaikan mata.
Dan entah dari mana, sampah di atas trotoar jalanan Malioboro tampak tak mengherankan. Bingung, apa ini karena budaya dalam kota Yogyakarta, atau memang keengganan mereka untuk mencemari trotoar jalan Malioboro yang terlalu menawan?
Tatkala matahari mulai merunduk,
mereka—temanku kembali dari penahanan yang sangat menjengkelkan, toilet dengan
antrian panjang. Mau ditinggalpun, sampah dalam tubuh sudah berada di penghujung.
Mereka tersenyum, lega, seolah
kenyamanan diri tak lagi direnggut.
Mengherankan, kini mereka kembali
tak hanya membawa senyum kelegaan, namun beberapa kantong plastik dengan oleh –
oleh khas Kota Yogyakarta tertenteng dengan cengiran. Bahkan membawanya saja terlihat
kesulitan. Sial, pasti aku juga yang akan kerepotan. Untung sahabat, kalau
tidak, rasanya ingin kutinggal lari saja. Ahahahaha…
Perlahan, diikuti matahari yang
merunduk, lampu taman jalan mulai berpendar menyapa pengunjung. Dan perut
terasa hangat, tatkala sesendok demi sesendok ronde berpindah ke dalam tubuh.
Sengaja mencari streetfood asli
yogya, sekalian lidah juga ingin menikmati keromantisan Jalan Malioboro yang
memikat jiwa.

1 komentar
Bagusss kakkkkk
BalasHapus